Headlines News :
Home » , , » Biography Perjalanan Seorang Dokter Rakyat Aceh

Biography Perjalanan Seorang Dokter Rakyat Aceh

Written By Partai Aceh on Sabtu, 18 Februari 2012 | 02.46

dr.H. Zaini Abdullah
“dokter geutanyo, dokter rakyat Aceh”

“Perubahan Aceh tidak datang kalau kita menunggu satu masa lagi,satu saat lagi, beberapa orang lagi…kita adalah bagian dari perubahan Aceh,,,
perubahan yang kita percaya”


dr. Zaini dan Latar Belakang Keluarga

“4 tahun berpindah-pindah dari hutan ke hutan belantara Aceh, dan 24 tahun berjuang di pengasingan( di negeri orang) untuk merubah nasib rakyat Aceh”
Di kalangan para pejuang DI/TII, Tgk. H. Abdullah dianggap sebagai sosok pemersatu. Semangat perjuangan dan pemersatu itu, kelak juga diwarisi oleh anak-anaknya, terutama dr. Zaini. Konsep persatuan menurut Tgk. H. Abdullah hanya akan dapat dilakukan dengan cara memahami keinginan rakyat Aceh.

Terbukti di kemudian hari, garis perjuangan itu dilanjutkan oleh Dr. Zaini yang memilih melawan kesewanang-wenangan pemerintah Republik Indonesia (RI) di era orde baru dengan bergabung bersama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pimpinan DR. Tengku Hasan di Tiro. Perjuangan yang dilakukan dr. Zaini bersama GAM tentu saja tak lepas dari kecintaanya kepada Aceh. konsep pembebasan dan mensejahterakan rakyat Aceh yang diusung Wali Nanggroe Dr.Tgk Hasan di Tiro begitu membekas dalam jiwanya. 


Bagi dr. Zaini, perjuangan yang dilakukan oleh GAM merupakan salah satu solusi untuk membebaskan Aceh dari ketidakadilan,ketidaksejahteraan dari hasil alamnya melimpah. Ia tak perduli atas resiko yang akan dihadapi, meski nyawa taruhannya.

Masa Perjuangan Bersama GAM di Dalam Negeri

Dalam masa-masa perjuangan bersama GAM, tentu saja, ada begitu banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi.  Bersama para pejuang-pejuangan GAM lainnya, ia terus diburu. Foto-foto Dr. Zaini disebar hingga ke pelosok-pelosok desa. Tak ada jalan lain selain bergeriliya ke hutan-hutan. Berhari-hari, minggu, hingga berbulan-bulan dan bertahun-tahun.

Sebagai seorang dokter, dr. Zaini memang dikenal memiliki kedekatan dengan masyarakat.  Ia bekerja dengan penuh keikhlasan, tidak meminta berapa masyarakat harus membayar namun sesuai dengan kemampuan. Dalam masa pelarian di Aceh, kedekatan itu terbukti dengan dukungan yang diberikan oleh masyarakat. Keberadaan Dr. Zaini ditutup rapat oleh rakyat

“Berani dan ikhlas: Rela meninggalkan bangku pendidikan spesialis kandungan dan pekerjaan sbg dokter dengan mengambil resiko hidup atau mati dalam berjuang bersama Wali untuk memperbaiki nasib rakyat Aceh di era orde baru”


“Seorang pemimpin harus selalu mendengar apa yang diinginkan oleh rakyatnya, dalam ilmu kedokteran diajarkan bagaimana seorang dokter harus selalu mendengar apa yang menjadi keluhan para pasien, maka begitu pula layaknya seorang pemimpin.

Meneruskan Perjuangan Di Luar Negeri

Tahun 1981, Dr. Zaini memilih untuk hijrah ke luar negeri. Selain karena kondisi Aceh semakin tak kondosif akibat operasi militer yang digelar pemerintah RI di Aceh, kepergiannya ke luar negeri juga bagian dari membangun diplomasi internasional, mengkampanyekan kesewenang-wenangan pemerintah RI di Aceh di era Orde Baru.

Pada suatu malam di tahun 1981, bersama beberapa rekan seperjuangan lainnya Dr. Zaini berangkat dari pangkalan berandan, perjalanan kemudian dilanjutkan ke Singapura menggunakan boat nelayan. Perjalanan menempuh waktu tiga hari tiga malam.

Sungguh perjalanan yang berat untuk ditempuh. Terhembus angin laut dan terbakar terik matahari. Tapi inilah perjuangan, inilah orang Aceh yang sejak dahulu memang dikenal pantang menyerah.

Dr. Zaini tiba di sebuah pelabuhan di Negara Singapura. Saat itu, sedang dilakukan pembangunan pelabuhan yang pekerjanya terdiri dari orang India , Banglades dan Sri Langka, mereka berkulit hitam. Untungnya, kondisi dr Zaini dan rekan-rekannya yang lusuh dan hitam legam tak membuat polisi Negara Singapura curiga. Mereka dikira pekerja pelabuhan.

Dari sana, Dr Zaini melanjutkan perjalanan menuju rumah Perdana Mentri GAM, Malik Mahmud di Geylang Serai. Selama lima hari di sana, dr Zaini berangkat menuju Swedia dengan menggunakan paspor Palang Merah Internasional. Seorang warga India yang bekerja di UNHCR saat itu  mengurusi segala keperluan keberangkatan dr. Zaini ke Swedia.

Tiba di Swedia, suasana sedang musim gugur. dr. Zaini ditempat di tempat pengungsia n ( International Political Refugee) di Flen, 100 kilometer kota Stockholm, Ibukota Swedia. Selama 3 bulan dr. Zaini berada di sana. Kemudian pindah ke Uppsala dimana disana terdapat UppsalaUniversity yang merupakan salah satu universitas terkemuka di dunia.

“Kita Harus Berbenah Sambil Membangun dan Membangun Sambil Berbenah”

Keinginan Dr. Zaini untuk menjadi dokter tetap dipertahankan meski beliau telah di Swedia. Sebelumnya, ia harus belajar bahasa Swedia di Universitas Uppsala, dengan tugas utama belajar bahasa bahasa kedokteran. Usai menyelesaikan pendidikan bahasa dan pendidikan kedokteran , dr. Zaini mendapat ijazah dokter dari universitas Uppsala dan bekerja paruh waktu di salah satu rumah Swedia. Tempat kerja itu berjarak 80 kilimoter dari kediamannya.

Dari tahun 1990-1995, Dr Zaini kembali menempuh pendidikan dokter spesialis keluarga. Biaya pendidikan ditanggung oleh dana pinjaman, dan biaya itu harus diganti selesai kuliah dari hasil kerja.

Profesi dokter memang telah menjadi bagian hidup dr. Zaini. Di tengah sejumlah kerja-kerja perjuangan untuk Aceh, ia terus menjalani profesi sebagai seorang dokter dengan ikhlas. Tak jarang, tugas-tugas kedokterannya sering berbenturan dengan tugas-tugas perjuangan. Semua itu diselesaikan dengan lancar. Diplomasi dengan dunia internasional pun terus dilakukan bersama meuntroe Malek Mahmud dibawah bimbingan Wali Nanggroe Dr Tengku Hasan Tiro.

“Tak putus asa : 4 tahun berpindah-pindah dari hutan ke hutan belantara Aceh, dan 24 tahun berjuang di pengasingan( di negeri orang) untuk merubah nasib rakyat Aceh”

Pada tahun 2000-2003, perundingan penting antara pemerintah RI dengan GAM dilakukan di Jenewa. Dr. Zaini terlibat langsung dalam perundingan itu. Namun perundingan gagal. Pemerintah Indonesia berusaha memasukkan GAM sebagai salah satu organisasi teroris. Berkat diplomasi dan lobi-lobi yang dilakukan tokoh-tokoh GAM di Swedia, usaha itu gagal total.
Akibat di tuduh sebagai teroris, dr.Zaini dan Mentroe Malek Mahmud harus mendekam di penjara bawah tanah Swedia selama 3 hari tiga malam. Namun pada proses persidangan di Pengadilan Swedia yang di kenal bebas dari intervensi pemerintah dan pihak manapun, dr.Zaini dan Mentroe Malek Mahmud di bebaskan dari segala tuduhan karena tidak terbukti. Bahkan pemerintah Swedia harus membayar kompensasi sebagai bentuk tanggung jawab Negara dalam memulihkan nama baik dr.Zaini dan Mentroe Malek Mahmud.   


Kembali Ke Aceh: Untuk Membawa Spirit Perubahan

Usai perundingan di Helsinki, Finladia pada 2005 lalu, Aceh telah damai. Dr. Zaini kembali ke Aceh. Melanjutkan cita-cita mensejahterakan Aceh. prinsipnya, “Orang Aceh harus bekerja giat membangun masa depan Aceh, dan sanggup bersaing di tingkat nasional dan internasional”

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mendatang, Dr. Zaini Abdullah diusung Partai Aceh untuk menjadi Calon Gubernur (Cagub) bersama Muzakkir Manaf sebagi Calon Wakil Gubernur (Cawagub). 

Persoalan korupsi, kemiskinan, pengangguran,kerusakan lingkungan dan moral bangsa Aceh membuat saya terpanggil maju sebagai Gubernur untuk untuk berjuang kembali memperbaiki  nasib bangsa Aceh yang telah salah urus.Kita tak mungkin seperti ini jika tidak karena salah urus.

Disamping itu,bagi Dr. Zaini, Aceh dan Islam tak dapat dipisahkan. Pemimpin Aceh haruslah yang memahami dan mengamalkan Islam secara kaffah. “Yang pedagang mari berdagang, yang nelayan mari berlaut, yang petani mari bertanam, yang kantoran mari bekerja, setiap orang harus bekerja untuk membangun Aceh yang dicita-citakan oleh para endatu orang Aceh.”
“Empaty dan Visionary:  Persoalan korupsi, kemiskinan, pengangguran,kerusakan lingkungan dan moral bangsa Aceh membuat saya terpanggil maju sebagai Gubernur untuk untuk berjuang kembali memperbaiki  nasib bangsa Aceh yang telah salah urus”

Tak Lekang Oleh Waktu: dr.Zaini di Mata Kolega dan Rakyat:

  1.  Saya mengenal betul dr.Zaini  dan keluarganya . Beliau seorang pemimpin yang taat  dan berdarah Pahlawan :  Beliau Putra Ulama terkemuka dan tokoh perjuangan DII/TII  dalam  memujudkan Negara Islam Indonesia . Ayah beliau Tgk H.Abdullah Hanafiah Teurubue. juga tak gentar mengambil resiko nyawa dalam berjuang untuk keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat Aceh bersama Tgk. Daud Beurueh di Era Orde Lama.( Abu Panton)
  2.  Dokter  Zaini itu sangat Merakyat: Dikenal  dan di kenang sebagai seorang dokter yang ramah dan pemurah dikalangan orang miskin.( Polem Leman, Mantan Pasien dr.Zaini di era 70 han di kuala simpang)
  3. Mengenang dr.Zaini seperti tak lekang oleh waktu. Beliau Berani dan ikhlas: Rela meninggalkan bangku pendidikan spesialis penyakit kandungan dan pekerjaan sebagai dokter kepala pukesmas dengan mengambil resiko hidup atau mati dalam berjuang bersama Wali untuk memperbaiki nasib Bangsa Aceh di era orde baru.( kenangan rekan sejawat dokter)
  4.  Satu hal yang sangat saya  kagumi dari dr.Zaini adalah tenang, konsisten,dan tak pernah putus asa .4 tahun berpindah-pindah dari hutan ke hutan belantara Aceh, dan 24 tahun berjuang di pengasingan( di negeri orang) untuk merubah nasib bangsa Aceh.(Malek Mahmud, Pemangku Wali Nanggroe)
  5. Rakyat Aceh harus bangga memiliki seorang dokter seperti dr Zaini..Beliau hampir mirip Nelson Mandela mantan presiden Afrika Selatan. setelah 28 tahun di penjara dan  di usia tak muda lagi, Nelson Mandela maju sebagai presiden Afrika selatan dan sukses merubah nasib rakyat setelah bebas dari penjajahan politik apartheid.
Begitu juga dengan dr.Zaini. Setelah 28 tahun melewati pahit getirnya perjuangan untuk  Rakyat Aceh, beliau masih mempunyai Empaty dan gambaran masa depan yang rakyat Aceh harus meliki. Keprihatinan terhadap persoalan korupsi meraja lela, kemiskinan, pengangguran,kerusakan lingkungan dan moral bangsa Aceh membuatnya terpanggil maju sebagai Gubernur Aceh  untuk berjuang kembali memperbaiki  nasib rakyat Aceh yang telah salah urus ( Sayed Marza, Ketua Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Untuk Perubahan Aceh)

dr. H.Zaini Abdullah

“Dokter Geutanyoe, Dokter Rakyat Aceh”

  1. Religius dan Berdarah Pahlawan :  Putra Ulama terkemuka dan tokoh perjuangan DII/TII  dalam  memujudkan Negara Islam Indonesia dan keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat Aceh di Era Orde Lama.
  2. Merakyat: Dikenal  dan di kenang sebagai seorang dokter yang ramah dan pemurah dikalangan orang miskin.
  3. Berani dan ikhlas: Rela meninggalkan bangku pendidikan spesialis kandungan dan pekerjaan sbg dokter dengan mengambil resiko hidup atau mati dalam berjuang bersama Wali untuk memperbaiki nasib rakyat Aceh di era orde baru.
  4.  Tak putus asa : 4 tahun berpindah-pindah dari hutan ke hutan belantara Aceh, dan 24 tahun berjuang di pengasingan( di negeri orang) untuk merubah nasib rakyat Aceh.
  5. Empaty dan Visionary:  Persoalan korupsi, kemiskinan, pengangguran,kerusakan lingkungan dan moral bangsa Aceh membuat saya terpanggil maju sebagai Gubernur untuk untuk berjuang kembali memperbaiki  nasib bangsa Aceh yang telah salah urus.

“Dokter Geutanyoe, Dokter Rakyat Aceh, Dokter untuk Menata Kembali Perubahan Aceh”

Share this article :
 
Tentang Website: Syarat | Peta Situs | Kontak
Copyright © 2012. Official Website Partai Aceh - Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Website:Tim Pemenangan Pusat
Partai Aceh