Headlines News :
Home » , , » Simpati untuk Tangse dari Kombatan

Simpati untuk Tangse dari Kombatan

Written By Partai Aceh on Selasa, 28 Februari 2012 | 19.34

Tangse- HAWA dingin merasuki pori-pori. Tubuh yang penuh peluh kini mulai segar oleh semilir angin pegunungan. Di depan, jalanan terus menanjak. Di kedua sisinya ada perbukitan dan jurang menganga. Jurang-jurang itu berisi air jernih dari mengalir dari Krueng Tangse.

Di tengah hijaunya pegunungan, pemukiman penduduk muncul tak ubahnya bidadari di tengah seribuan dara, itulah Tangse namanya. Wajahnya cantik, manis, lembut dan rimbun mampu menarik perhatian orang-orang untuk melepaskan penat dengan sajian udara segar, bebas polusi.

Tangse merupakan salah satu kecamatan dalam wilayah Kabupaten Pidie. Letaknya di ketinggian 600 hingga 1200 mdpl (meter di atas permukaan laut). Tangse beriklim sejuk. Setidaknya kawasan ini cocok untuk tempat tetirah di akhir pekan.

Iklim nan sejuk dan curah hujan tinggi ini menjadikan tanah Tangse sangat subur. Pada 1970-an, Tangse yang memiliki 28 kampung ini bisa dikatakan kawasan makmur di Aceh. Di daerah ini dihasilkan kopi robusta, padi, durian, dan jenis hortikultura lainnya.

Tangse memiliki lebih kurang 25 ribu penduduk. Wilayahnya terbentang sepanjang 75 ribu kilometer per segi. Di sisi Tangse ada Kecamatan Mane dan Geumpang.

Itu gambaran Tangse yang dulu. Semuanya terbalik ketika alam murka. Dua kali bencana menerjang Tangse, banjir bandang dan banjir akibat tanah longsor.

Bencana pertama terjadi pada 10 Maret 2011. Hujan empat hari berturut-turut ternyata mengirimkan bah dahsyat ke Tangse. Kayu-kayu gelondongan bercampur lumpur menyerbu pemukiman penduduk. Bencana tiba saat rembang petang.

Kampung Pucok, Peunalom, Layan, Pulo Baro, Blang Jrat, dan Blang Dalam jadi sasaran. Ratusan rumah dan puluhan warga meninggal dunia.

Banjir bandang juga menghumbalang jembatan dan fasilitas fisik lainnya. Arus deras air di Krueng Tangse kala itu terbilang kencang. Banjir ini bahkan menginfiltrasi ke sebagian wilayah Aceh Barat.

Kepanikan masyarakat ini direspon cepat. Tak hanya warga Tangse, sidang di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Pidie pun dihentikan oleh Ketua DPRK Muhammad AR begitu informasi tersebut diterima.

Ketua Fraksi Partai Aceh DPRK Pidie, Usman M. Yusuf, langsung berkoordinasi dengan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Aceh Kabupaten Pidie dan Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pidie untuk segera menuju ke lokasi kejadian.

Rombongan DPW PA Pidie dan KPA Pidie dibawah kendali Teungku Sarjani Abdullah serta Roni Ahmad alias Abu Tjhik langsung mengumpulkan Tim Satuan Bencana (Satgana) Internal KPA dan PA untuk berangkat ke Tangse.

Dalam waktu singkat malam itu, KPA dan PA Pidie langsung mengangkut berbagai bantuan dan kebutuhan mendesak seperti logistik dan mendirikan posko induk mantan kombatan ini di Keude Tangse.

Lima mobil kijang pick up yang tersedia lalu-lalang mendistribusikan berbagai bantuan ke kampung-kampung yang terkena bencana. Satu unit helly pad juga disediakan oleh Ketua DPW PA Pidie, Sarjani Abdullah, yang dikhususkan untuk wilayah terisolir.

Empat belas hari sesudah bencana, Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud bersama dr Zaini Abdullah dan sejumlah pengurus teras Partai Aceh mengunjungi para korban banjir yang ditampung di sejumlah posko pengungsian di Tangse.

Kedua mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka itu menyerahkan sejumlah bantuan kepada para korban. Selain logistik dan uang tunai Rp35 juta, juga diserahkan 50 unit tenda, satu barak penampungan sementara, 1.500 helai kain sarung, kaos, dan baju daster.

Di posko pengungsi Gampong Rantau Panyang, Malik Mahmud kala itu mengatakan pihaknya amat prihatin atas musibah banjir bandang yang menimpa 11 gampong di Tangse.

“Sebagai sesama umat Islam dan warga Aceh, kami merasa amat prihatin atas musibah yang telah merenggut sejumlah jiwa saudara kita itu,” katanya. Ia juga turut sedih karena tidak bisa melihat langsung kondisi masyarakat saat kejadian, karena banyak tugas yang harus diselesaikan.

*****

Negeri hampir pekat gelap ketika air bah itu menerjang. Tangse kembali dirundung bencana pada pukul 18.30 WIB, Sabtu pekan lalu, Sabtu 25 Februari 2012. Bayangan haru biru bencana yang terjadi di Tangse sebelas bulan lalu kembali terpampang. Padahal, masa rehabilitasi dan rekonstruksi banjir tahun lalu itu belum lagi usai.

Kini giliran Kemukiman Beungga yang banjir bandang. Kejadian ini kembali menghentakkan Pidie. Terutama para peserta rapat evaluasi Tim Pemenangan Pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh, baik untuk gubernur maupun bupati di Aula Kantor DPW Partai Aceh Kabupaten Pidie yang baru selesai.

Sontak saja, Ketua DPW PA Pidie Sarjani Abdullah menginstruksikan kepada Dewan Pengurus Sagoe (DPS) Partai Aceh dan KPA Tangse langsung terjun ke lokasi kejadian yang dibantu DPS PA dan KPA dari Beureunuen, Lamlo, Keumala, Tiro, Mila, dan Mane. Dalam pekat malam, Pimpinan KPA dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Aceh Kabupaten Pidie berembuk. Rencana dijalin, logistik dikumpulkan.

Seratusan anggota PA dan KPA yang tergabung dalam Satuan Bencana Siaga (satgana) internal lembaga ini meluncur ke lokasi. Tak lama kemudian, Ketua DPW PA Pidie Sarjani Abdullah, Ketua KPA Pidie Rony Ahmad alias Abu Tjhik dan sejumlah anggota DPRK Fraksi Partai Aceh beserta rombongan tiba di lokasi.

Pukul 20.55 WIB, puluhan mobil pick up mengarah ke Tangse. Di dalam bak truk-truk tersebut terdapat dua ton beras dan logistik lainnya. Namun, Tangse belum bisa dicapai. Jembatan di Desa Blang Maloe putus. Kampung ini terletak sekitar sembilan kilometer sebelum Tangse.

Pembagian logistik dipending. Evakuasi masyarakat diutamakan lebih dulu. "Seluruh anggota kita telah disebarkan ke berbagai kampung yang terkena musibah untuk mengevakuasi para korban yang masih terancam dalam kepungan air bah," ujar Teungku Sarjani Abdullah.

Tak hanya itu, Sarjani juga mengatakan awak KPA juga akan menyisir dan membuka jalan tembus secara darurat. Ia juga merencanakan besoknya di hari pertama usai bencana, tiap-tiap anggota KPA dan PA dari Sagoe dalam wilayah Pidie akan dikirim ke Tangse secara bergantian untuk membersihkan jalan, rumah masyarakat, serta tempat ibadah. Mereka akan bergabung dalam Tim Penanggulangan Bencana Internal Komite Peralihan Aceh.

Dari Banda Aceh meluncur tim Putroe Aceh. Tim yang dipimpin Cut Fatma mereka membawa beras, minyak makan, telur, sabun, mukena, sajadah, mie instan, kain sarung, roti, unibis, aqua, dan gula. "Kami membawa bantuan dari Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf," kata Cut Fatma. Zaini adalah politisi senior Partai Aceh, dan Muzakir Manaf tak lain Ketua Umum Partai Aceh yang juga Ketua KPA Pusat.

Malam kian pekat. Bau lumpur terhidu dimana-mana. Tangse masih panik. Tim bekerja dengan mengerahkan kemampuan mereka. Beberapa jam sesudahnya, ada lansiran data sementara kerusakan di Tangse yang dikirim oleh Tim KPA. Di Blang Malo dilaporkan lima rumah hanyut, Kebun Nilam 17 rumah, Pulo Seunong 20 rumah, Ulee Gunong dan Pulo Kawa masing-masing dua rumah. Jembatan Kuala Panteue juga dilaporkan Tim putus total. Akibatnya hubungan transportasi Beureunuen-Tangse tak berfungsi lagi.

Untuk kerugian, belum bisa dipastikan. Namun data dari Tim menunjukkan ada 18 rumah dipastikan hancur total. Selain itu ada juga balai pengajian dan pondok pesantren. Selain mendata, Tim juga mengirimkan dua unit buldoser dan satu beko untuk memperbaiki Jembatan Kuala Panteue yang putus.

Sehari sesudah bencana, jembatan ini bisa digunakan untuk memperlancar arus transportasi. Berduyun-duyun orang menuju Tangse untuk melihat atau membantu famili mereka yang terkena banjir. Setidaknya, walau darurat, jembatan itu menjadi sarana vital.

Keringat belum lagi hilang, Tim harus bekerja mencari warga yang diduga hilang terbawa arus bah. "Anggota kami masih tersebar di setiap lokasi dan masing-masing grup diketuai oleh anggota KPA dan PA Sagoe Tangse. Sedangkan yang lainnya sedang dalam perjalanan, terutama yang agak sedikit berjauhan dengan Tangse," kata Sarjani.

Sehari sesudah bencana, Pimpinan KPA dan DPW PA Pidie juga membuka posko penanganan korban di Kampung Blang Malo, Pulo Mesjid, dan Kebun Nilam.

Dua kejadian ini membuat Tangse kehilangan wajah dan pamor. Berbagai tempat menawan kehilangan identitas seperti air terjun yang terhelai di lintasan Sigli-Meulaboh, tepatnya di Kampung Krueng Meriam.

Penyebab banjir Tangse diduga akibat pembalakan liar yang terjadi di sepanjang hutan Tangse dan Geumpang usai bencana tsunami 2004.

Pada 2007, Pemerintah Aceh mengeluarkan dua konsep penyelamatan hutan dan lingkungan yaitu, Moratorium Logging dan Aceh Green. Namun moratorium logging yang di deklarasikan pada 6 Juni 2007 di Aceh seperti tidak berefek sama sekali. Penebangan liar terus terjadi dan hasilnya seperti yang terlihat di Tangse kini. []

sumber: atjehpost.com
Share this article :
 
Tentang Website: Syarat | Peta Situs | Kontak
Copyright © 2012. Official Website Partai Aceh - Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Website:Tim Pemenangan Pusat
Partai Aceh